Monday, January 7, 2008

Belajar kitab kuning di Assalaam

Hasil wawancara dengan Ust. Budi Prasetyo (Dewan Kyai)



Assalaam mengajarkan ilmu dunia dan ilmu akherat. Paling tidak pelajaran dunia dapat diwakili dengan dipakainya kurikulum departemen. MTS dan MA menggunakan kurikulum Depag sedangkan SMA dan SMK menggunakan kurikulum Diknas. Namun Assalaam juga menambahkannya dengan kurikulum Pondok. Pelajaran ilmu akherat di Assalaam seperti diajarkannya sholat dan puasa serta ibadah lain. Tidak hanya di kelas saja tetapi dipraktekkan secara langsung. Ada materi yang menunjang semangat pembelajaran ilmu akherat seperti bahasa arab, fiqh, hadits dsb. Soal prosentase tidak bisa dihitung 50%-50% tetapi dilihat kebutuhan masing-masing. Pada tingkat MTs diajarkan dasar-dasar keilmuan kemudian setelah MA dan SMA diajarkan tingkat lanjut.

Assalaam juga mengajarkan kitab kuning. Sebenarnya kitab kuning itu hanya istilah budaya. Kitab kuning yang berwarna kuning sekarang kertasnya sudah putih semua. Jika Nahwu wadhih itu kitab kuning maka itu berarti penting diajarkan. Kitab kuning itu berisi ilmu keislaman yang bahasa asli bahasa arab. Kita tahu terjemahan ke bahasa Indonesia sering punya kelemahan fundamental. Ada konsep makna yang hilang. Contohnya Jalasa diartikan duduk jika diganti majelis apakah bisa diterjemahkan menjadi tempat duduk? Dien yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi agama punya perbedaan. Agama seringkali hanya mencakup ajaran yang diturunkan, punya wahyu berupa kitab dan ada nabi pembawanya. Padahal menurut saya tidak demikian. Menggunakan istilah dien maka demokrasi merupakan agama juga, sekularisme, reiki, yoga juga menjadi sebuah dien. Karena dalam beberapa aspek hal-hal tadi dapat menggantikan dien Islam. Dalam kajian sosiologis pun hal-hal demikian bisa di katagorikan merupakan spiritual alternatif (dien juga).

Untuk dapat mempelajari agama islam dari sumber asli maka dipelajari kitab-kitab asli menggunakan bahasa arab (kitab kuning) misalnya:

  • Nahwu Wadih untuk tata bahasa arab
  • Shorf menggunakan kitab Amsilah Tasrifiyah (yang juga digunakan di pondok salaf)
  • Bidayatul mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, kitab fiqh tetapi lebih berfungsi untuk praktek membaca kitab bahasa arab
  • Ushul fiqh menggunakan kitab Mabadi’ awwaliyah
  • Ulumul Qur’an menggunakan kitab Mabahits fi Ulumul Qur’an Man’ul Qotton
  • Untuk hadits menggunakan kitab Taisir Mustolah Hadits

    Yang paling penting untuk diajarkan adalah ilmu tauhid, ini didukung ilmu fiqh, qur’an dan hadits. Untuk mempelajari dari sumber asli maka ilmu bahasa arab diajarkan (nahwu, shorof, tafsir).

    Untuk informasi umum maka media masa diperkenankan untuk santri, hanya dibatasi, tidak bebas total. Untuk TV dan Radio dibatasi penggunaannya. Majalah dan koran ada di perpustakaan. Banyak majalah yang tidak cocok untuk santri sehingga tidak diperkenankan. Kalau koran yang umum hampir semua boleh dan dijadikan langganan di perpustakaan karena memang isinya sudah bagus. Assalaam juga menyediakan akses internet di lab komputer untuk santri. Santri-santri boleh mengakses internet, hanya dibatasi. Perlu kontrol yang lebih jelas konsepnya untuk membendung efek negatif dari internet.

    Saat ini ta’dhim santri pada Kyai relatif kurang jika dibandingkan dengan pondok-pondok salaf. Ada sebab-sebabnya. Secara sosial Kyai sekarang kurang interaksinya dengan santri. Lebih banyak guru-guru yang mengajar di kelas. Secara budaya Assalaam tidak menanamkan kultus indifidu pada Kyai tetapi belum punya konsep yang pas penggantinya.

    Kitab Ta’lim Muta’alim tidak diajarkan di Assalaam tetapi yang penting diajarkan itu Adabut Ta’alum. Ada kitab bagus karangan Abdul Qodir Jaelani berjudul Kitabul Jami’ li Tholibul Ilmi. Bahkan mungkin materi tersebut bisa ditambahkan pada pelajaran aqidah akhlak. Karena selama ini pelajaran itu bisa diringkas tapi kesannya dipanjang-panjangkan.

    Sistem pembelajaran yang biasa di Assalaam adalah dengan cara guru mengajarkan di kelas, menjelaskan materi kemudian santri mengulang sendiri secara mandiri. Ada beberapa guru memberikan tugas pada santri untuk membuat makalah untuk diskusi. Tetapi santri akan kesulitan jika semua pelajaran menggunakan cara demikian mengingat banyaknya waktu yang dibutuhkan. Banyak kegiatan lain di luar jam pelajaran seperti kegiatan kesantrian di sore dan malam hari.

    Di Assalaam tasawuf sebagai lembaga tidak penting. Akan tetapi tasawuf sebagai akhlak pribadi maka tidak ada masalah, malah baik seperti mengajarkan qonaah, zuhud dan ikhlash. Menurut kritik Syeh Fauzan kesannya tasawuf itu banyak unsur bid’ahnya. Meskipun para pengikut tasawuf akan menolak hal demikian. Kesan tasawuf lebih mengejar kepuasan ritual sehingga melupakan hal lain (melupakan problem dunia), kesan ini jadi negatif. Islam mestinya tidak hanya mengajarkan yang demikian.

  • 1 comment:

    Masipung said...

    assalamualaikum.Buat ikhwan ikhwat yg mau mendapatkan aplikasi kitab kuning utk hp java silahkan buka http://kitabgundul.blogspot.com
    Syukron.